Artikel · 04 September 2026 · H. Moh. Hajid

BAHAYA LISAN DAN MEDIA SOSIAL

BAHAYA LISAN DAN MEDIA SOSIAL

لَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا

(Lā takallam bi kalāmin ta'tadziru minhu ghadan)

"Janganlah kamu mengucapkan suatu perkataan yang membuatmu harus meminta maaf di kemudian hari (esok hari)."


Pengantar

Dalam wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu, beliau bersabda, “Maukah engkau aku beri tahu kunci dari semua itu?” Mu’adz menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang lidahnya seraya bersabda, “Tahanlah ini!” Mu’adz bertanya lagi, “Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa lantaran ucapan yang kita lontarkan?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Wahai Mu’adz, kasihan sekali kamu! Adakah sesuatu yang menyebabkan seseorang tersungkur wajahnya di neraka selain dari hasil ucapan-ucapan lisan mereka?” [HR. Ahmad, no. 22016; At-Tirmidzi, no. 2616. Hadis ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam kitab Shahihul Jami’, no. 5136].

Lisan itu sangat berbahaya. Dalam sebuah hadis dari Sahabat Tsabit, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika anak Adam memasuki waktu pagi, maka seluruh anggota badannya tunduk kepada lisan, lalu mereka berkata, ‘Bertakwalah kalian kepada Allah dalam urusan kami, karena kami selalu bersamamu. Jika kamu lurus, maka kami juga lurus, dan jika kamu bengkok, maka kami juga bengkok.’” [HR. Ahmad, no. 11908 dan At-Tirmidzi, no. 2407 dari hadis Abu Sa’id Al-Khudri. Hadis ini dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah].


Peran Media Sosial

Peran komunikasi lisan yang dipadukan dengan media sosial saat ini sangat krusial karena mampu mengubah cara pesan disampaikan, mempercepat penyebaran informasi, dan memperluas jangkauan interaksi manusia secara global. Kehadiran fitur seperti video pendek (TikTok, Instagram Reels), live streaming, dan voice note membuat komunikasi lisan digital terasa sangat personal sekaligus masif.

Untuk menghadapi fenomena ini secara sehat, kita perlu membagi sikap kita menjadi dua peran: sebagai pendengar (konsumen informasi) dan sebagai pembicara (produsen informasi).

1. Sebagai Pendengar (Konsumen)

●      Saring Sebelum Sharing: Jangan mudah percaya pada informasi lisan yang menggebu-gebu atau emosional sebelum memverifikasi faktanya (cek hoaks).

●      Fokus pada Isi, Bukan Kemasan: Jangan mudah terpengaruh hanya karena pembicaranya rupawan, berbicara dengan nada meyakinkan, atau menggunakan latar belakang yang mewah. Tetap kritis terhadap substansi argumennya.

●      Batasi Durasi Konsumsi: Paparan video pendek berbasis lisan yang terlalu cepat dapat menurunkan daya konsentrasi. Seimbangkan dengan membaca buku atau teks yang mendalam.

2. Sebagai Pembicara (Produsen)

●      Jaga Etika dan Sopan Santun: Ingat bahwa apa yang diucapkan secara digital akan meninggalkan jejak digital yang permanen. Hindari ujaran kebencian, fitnah, dan kata-kata kasar.

●      Pikirkan Dampak Ucapan: Sebelum menekan tombol record atau live, pikirkan apakah ucapan kita bermanfaat bagi orang lain atau justru berpotensi memecah belah.

●      Gunakan Bahasa yang Inklusif: Gunakan bahasa yang mudah dipahami, jelas, dan menghargai keberagaman audiens yang menyimak.


Kisah Imam As-Sudais Menangis

Syaikh Abdurrahman As-Sudais pernah menangis seusai memimpin salat di Masjidil Haram karena mendengar suara musik dari telepon genggam (HP) yang berdering di tengah barisan makmum.

Suatu hari, saat salat berjamaah berlangsung di Masjidil Haram, sebuah ponsel milik makmum berdering dan mengeluarkan suara musik. Telepon masuk tersebut berbunyi tepat ketika salat sedang ditegakkan di dekat Baitullah. Suara itu tentu mengganggu kekhusyukan salat di tempat yang paling suci bagi umat Islam tersebut.

Selesai salat, Syaikh Abdurrahman As-Sudais berbalik menghadap para jamaah. Beliau menyampaikan nasihat dengan suara bergetar dan berlinang air mata. Beliau berkata dengan penuh kepedihan, "Di rumahku, aku tidak pernah mendengar suara musik. Namun hari ini, justru aku mendengar musik di rumah Allah..."

Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi setiap muslim untuk mematikan atau menonaktifkan ponsel saat berada di dalam masjid, terutama ketika hendak melaksanakan salat.

Ironisnya, saat ini masih banyak umat Islam yang datang ke masjid tanpa lupa membawa handphone. Meskipun pengurus masjid, bahkan imam, sudah mengingatkan untuk mematikan atau paling tidak menyenyapkan nada deringnya, masih ada saja handphone yang berbunyi di tengah-tengah berlangsungnya salat jamaah.

Yang lebih memprihatinkan lagi, ada sebagian jamaah yang tetap bermain handphone saat khatib sedang berkhotbah. Boleh jadi mereka tidak tahu tentang bagaimana adab jamaah dalam salat Jumat, atau bisa jadi karena tema khotbahnya monoton dan tidak menarik, sehingga jamaah lebih tertarik bermain game di handphone daripada mendengarkan khotbah tersebut.


Penutup

Dari hadis Rasulullah di atas, terdapat seruan, ajakan, dan imbauan untuk selalu introspeksi diri terkait ucapan-ucapan yang terlontar dari lisan maupun ketikan jari-jari kita lewat handphone. Hendaklah kita merenung sebelum berucap. Jika kita memandang ucapan atau berita itu mendatangkan kebaikan, maka ucapkanlah dan bagikan! Sebaliknya, jika ucapan atau berita itu berpotensi buruk, maka hendaklah kita menahan diri. Jika kita tidak tahu apakah ucapan itu baik atau buruk, maka sebaiknya kita juga menahan diri dan tidak mengucapkannya sampai kita benar-benar mengerti tentang dampak ucapan tersebut.


Disarikan oleh Khamimudin dari Khotbah Jumat H. Moh. Hajid di Masjid Al-Amanah, Ponggalan Giwangan tanggal 4 Agustus 2026.


← Kembali ke Beranda