Artikel · 29 Agustus 2026 · Khamimudin

CINTA ITU BUTA

CINTA ITU BUTA

 

حُبُّكَ الشَّيْءَ يُعْمِي وَيُصِمُّ

"Kecintaanmu kepada sesuatu membuatmu buta dan tuli."

(HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Pengantar

Pengertian cinta menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah suka sekali, sayang benar, atau salah satu cara untuk mengungkapkan perasaan terhadap seseorang. Sedangkan pengertian buta ialah tidak dapat melihat karena matanya rusak, atau tidak tahu (tidak mengerti sedikit pun) tentang sesuatu. Jadi, cinta buta adalah perasaan terhadap sesuatu yang tidak selalu bisa dijelaskan secara kasat mata; suatu hal yang tak dapat dilihat, namun begitu sangat dicintai.

Bucin yang Salah

Istilah "Bucin" atau budak cinta diartikan sebagai kondisi di mana seseorang mau melakukan apa pun demi orang atau sesuatu yang dicintainya, mulai dari mengorbankan harta hingga perasaannya sendiri. Hal ini selaras dengan pepatah "Love is blind" (cinta itu buta). Membeli bungkus makanan bekas—yang biasanya dibuang menjadi sampah—dengan harga jutaan rupiah demi idola adalah hal di luar nalar logika. Logika sudah tidak lagi berfungsi sebab orang tersebut dibutakan oleh cinta yang membabi buta. Bahkan, ada kejadian di mana remaja perempuan berhijab merasa sangat senang ketika dipeluk oleh artis Korea pujaannya, sehingga media menulis tajuk, "Mereka Berhijab Tapi 'Pasrah' Dilecehkan Artis Idolanya."

Imam as-Sakhawi mengatakan bahwa seseorang yang mengalami cinta yang hebat dalam hatinya terhadap orang yang ia kasihi, namun tidak dikendalikan oleh akal dan agamanya, maka cinta itu akan membuatnya tuli dan buta. Sebagaimana sebuah syair dari Imam Syafi’i berbunyi:

وَعَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيلَةٌ ... كَمَا أَنَّ عَيْنَ السُّخْطِ تُبْدِي الْمَسَاوِيَا

"Pandangan simpati (cinta) menutupi segala cela, sebagaimana pandangan benci menampakkan segala cacat."

Buta adalah ketika seseorang yang mencintai sesuatu secara berlebihan akan tertutup mata hatinya dari kebenaran. Sedangkan tuli adalah ketika orang tersebut tidak lagi bisa mendengar nasihat atau kebenaran tentang hal yang dicintainya. Kecintaan kepada harta, dunia, atau selain Allah yang melampaui batas dapat menghilangkan objektivitas seseorang dalam menilai baik dan buruk.

Peran Media Sosial

Media (khususnya media sosial dan internet) turut berperan dalam merusak moral remaja melalui paparan konten negatif tanpa batas, degradasi etika komunikasi, serta dorongan gaya hidup hedonis yang tidak sesuai dengan norma agama.

Bentuk pengaruh buruk media terhadap moral remaja antara lain adalah kemudahan akses konten negatif. Kemudahan internet membuat remaja rentan melihat konten pornografi, kekerasan, atau perjudian online yang merusak akhlak.

Dampaknya, angka kehamilan remaja di luar nikah di Indonesia masih cukup tinggi dan kerap memicu pengajuan dispensasi nikah dini. Data dan statistik menunjukkan realitas yang memprihatinkan:

·       Angka Nasional: Berdasarkan riset kesehatan dan data BKKBN, proporsi kehamilan pada usia remaja (terutama usia 15–19 tahun) yang tidak diinginkan atau di luar nikah mencapai puluhan ribu kasus setiap tahunnya.

·       Dispensasi Nikah: Ratusan hingga ribuan anak usia sekolah (SMP/SMA) mengajukan dispensasi kawin ke Pengadilan Agama akibat hamil di luar nikah, seperti yang banyak tercatat di berbagai daerah di Pulau Jawa.

·       Skala Global: Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat sekitar 16 juta perempuan berusia 15–19 tahun melahirkan di luar nikah setiap tahunnya di seluruh dunia.

Bucin ala Rasulullah

Hadis di awal tulisan menjelaskan bahwa cinta yang berlebihan dapat menutupi akal sehat. Namun, ada pengecualian jika "cinta buta" itu diarahkan kepada ketaatan. Seseorang yang sungguh-sungguh mencintai kebaikan dan syariat tidak akan memedulikan celaan orang lain, selama apa yang dicintainya itu membawa keberkahan dan keridaan dalam kehidupannya.

Dalam surah Al-Hujurat ayat 7, Allah Swt. berfirman:

"Dan ketahuilah bahwa di tengah-tengah kamu ada Rasulullah. Kalau dia menuruti (kemauan) kamu dalam banyak hal, pasti kamu akan mendapatkan kesusahan. Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan, dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus."

Cinta mutlak terhadap agama yakni cinta kepada keimanan; cinta yang menjadikan kita benci terhadap kemaksiatan. Apa pun yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya pastilah baik, yang bertujuan untuk menjaga umat dari hal-hal negatif. Banyak orang yang salah mengartikan kecintaan mendalam pada agama ini dan menganggapnya sekadar fanatisme buta.

Fanatisme golongan berbeda dengan cinta mutlak terhadap agama. Orang yang fanatik buta sering kali menyalahkan apa pun yang tidak sesuai dengan pemahamannya, padahal hal tersebut bisa jadi hanyalah perbedaan pemahaman (khilafiyah), terutama dalam ranah ilmu fikih. Sebagai hamba yang fakir ilmu, alangkah baiknya kita mengikuti para ulama yang lebih fakih (mumpuni) di bidangnya, alih-alih mudah mengkafirkan atau menyalahkan saudara seiman.

Penutup

Cinta sejati terhadap Sang Pencipta adalah cinta yang tidak membutuhkan alasan rasional duniawi semata untuk tunduk, patuh, dan membela syariat-Nya. Cinta terhadap agama adalah momen di mana keimanan kita semakin dikuatkan oleh Sang Maha Cinta di dalam hati hamba-hamba-Nya yang dikehendaki. Untuk taat dan mencintai-Nya tak membutuhkan keraguan, karena sudah pasti Allah telah mempersiapkan balasan dan tempat terbaik bagi setiap hamba-Nya yang taat.


← Kembali ke Beranda