Artikel · 29 Agustus 2026 · Ustadz Sudarmadi

CINTA RASUL

CINTA RASUL

Pengantar

Orang Arab Badui bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, "Kapan hari Kiamat akan terjadi?"

Atas pertanyaan tersebut, Nabi SAW tidak langsung menjawab kapan waktu pasti kiamat. Beliau justru balik bertanya kepada orang Badui tersebut, "Apa yang telah engkau siapkan untuk menghadapi hari Kiamat?"

Orang Badui itu menjawab dengan jujur bahwa ia tidak memiliki persiapan amal sunnah yang banyak, "Aku tidak menyiapkan amal besar untuk hari itu, baik berupa banyak shalat, puasa, atau sedekah. Hanya saja, aku mencintai Allah dan Rasul-Nya."

Mendengar jawaban itu, Rasulullah SAW bersabda: "Engkau akan bersama orang yang engkau cintai."

Dari kisah di atas kita telah diberi kata kunci (password) oleh Nabi SAW, bahwa untuk bisa masuk surga, salah satu amalannya adalah dengan memperbanyak membaca shalawat.

Bagaimana Cara Mencintai Rasulullah?

Pertama, dengan cara sering membaca shalawat Nabi SAW. Shalawat begitu istimewa sampai-sampai Allah sendiri yang memerintahkan sekaligus mempraktikkannya, seperti yang tertera dalam Al-Qur'an surat Al-Ahzab ayat 56:

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Artinya: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."

Setiap bulan Rabi’ul Awwal, umat Islam senantiasa memperingati hari kelahiran beliau dengan cara membaca shalawat sebagai ungkapan kecintaan, penghormatan, dan untuk mengenang kelahiran beliau.

Kedua, dengan cara mencontoh perilaku dan akhlak Rasulullah SAW, karena dalam diri beliau banyak yang dapat dijadikan teladan yang baik.

Allah menegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 21:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

Artinya: "Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah."

Keteladanan Rasulullah tercermin dari perilaku beliau dalam memperlakukan keluarga, sahabat, tetangga, orang miskin, bahkan beliau mengajarkan bagaimana memperlakukan orang-orang yang memusuhi beliau.

Rasulullah bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ / مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

Artinya: "Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (budi pekerti yang baik)."

Nabi Muhammad SAW tidak datang untuk menghapus seluruh tradisi atau nilai lama, melainkan meluruskan, mengarahkan, dan menyempurnakan nilai-nilai luhur yang sudah ada di tengah masyarakat agar sesuai dengan tuntunan Allah SWT.

Akhlak yang mulia mencakup hubungan baik kepada Sang Pencipta (Allah SWT) maupun hubungan baik kepada sesama manusia dan alam sekitar (muamalah).

Manfaat Mencintai Rasulullah SAW

Rasulullah bersabda:

مَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ

Artinya: "Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka sungguh ia telah mencintaiku. Dan barangsiapa mencintaiku, maka ia akan bersamaku di surga."

1. Menghidupkan Sunnah: Maksudnya adalah mengamalkan, melestarikan, dan mengajarkan ajaran atau contoh yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, terutama saat ajaran tersebut mulai ditinggalkan atau dilupakan orang.

2. Tanda Cinta kepada Nabi: Menjalankan sunnah adalah bukti nyata dari rasa cinta seseorang kepada Nabi Muhammad SAW. Cinta kepada beliau tidak cukup hanya di lisan, tetapi dibuktikan lewat perbuatan.

3. Balasan di Akhirat: Orang yang benar-benar mencintai Nabi dan menghidupkan sunnahnya dijanjikan akan dikumpulkan dan bersama Rasulullah SAW di dalam surga.

Bagaimana dengan Kita?

Jika Rasulullah SAW masih hidup, pasti beliau akan merasa sedih melihat perilaku umatnya. Saat ini, banyak di dalam rumah yang sudah kehilangan kelembutannya, pasangan saling melukai dengan kata-kata dan perilaku yang jauh dari teladan beliau dalam memperlakukan keluarga.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak kita saksikan perilaku kekerasan terhadap sesama, hingga sikap korup para pemangku kekuasaan. Padahal, Baginda Rasulullah hadir di tengah-tengah masyarakat Quraisy pada saat itu dengan memberikan teladan tentang bagaimana manusia seharusnya memperlakukan sesamanya.

Dalam kehidupan sehari-hari, akhlak kita diuji. Misalnya, seseorang dapat tampil sangat santun di ruang publik, tetapi sikapnya berubah drastis ketika di rumah atau ketika tidak ada yang melihat.

Banyak orang tua yang menginginkan anak-anaknya tumbuh dan berkembang menjadi anak yang saleh dan salehah, tetapi makanan dan minuman yang dikonsumsinya bukan dari yang halal. Terkadang antara ucapan dan perilaku orang tua juga berbeda, sehingga anak menjadi bingung ingin mencontoh siapa, karena ayah dan ibunya tidak bisa menjadi teladan (role model) dalam kehidupan.

Penutup

Mencintai Rasulullah memang mudah diucapkan, tetapi tidak mudah untuk diwujudkan. Cinta tersebut terwujud ketika seseorang mampu menahan kata-kata yang melukai, membantu orang lain, memaafkan ketika ego ingin membalas, dan tetap menghormati perbedaan.

Ada kegelisahan yang muncul di tengah-tengah kita: mengapa akhlak Rasulullah seolah-olah belum sepenuhnya membekas dalam kehidupan? Ada banyak orang yang lisannya mengagungkan Rasulullah, tetapi perilakunya justru jauh dari akhlak yang beliau ajarkan.

________________________________________

Disarikan oleh Khamimudin dari materi pengajian Sabtu pagi, 29 Agustus 2026 di Masjid Al-Amanah Ponggalan, Giwangan, Yogyakarta.


← Kembali ke Beranda