
Pengantar
Kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah, tetapi akumulasi perjuangan oleh para pejuang kemerdekaan Indonesia, termasuk para kiai dan para santri. Perjuangan tersebut mencapai titik kulminasinya saat Bung Karno didampingi Bung Hatta memproklamirkan Indonesia yang merdeka dan berdaulat pada tanggal 17 Agustus 1945.
Bahwa penjajahan adalah penguasaan oleh pihak yang kuat yang cenderung menindas dan menghinakan, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an Surat An-Naml ayat 34:
قَالَتْ اِنَّ الْمُلُوْكَ اِذَا دَخَلُوْا قَرْيَةً فَسَدُوْهَا وَجَعَلُوۡا اَعِزَّةَ اَهْلِهَا اَذِلَّةً ۚوَكَذٰلِكَ يَفْعَلُوْنَ
Dia (Balqis) berkata, "Sesungguhnya raja-raja apabila menaklukkan suatu negeri, mereka tentu membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian yang akan mereka perbuat."
KH. Wahab Hasbullah dari Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, bahkan harus mengumandangkan jargon: Hubbul wathon minal iman (cinta tanah air adalah bagian dari iman). Jargon ini bertujuan untuk membangkitkan para kiai dan santri agar tidak lelah untuk terus berjuang merebut kemerdekaan, yang pada saat itu Indonesia masih dijajah oleh kolonial Belanda.
Bahwa kemerdekaan yang ke-81 tahun ini harus kita peringati dengan penuh keprihatinan. Bencana ada di mana-mana, mulai dari banjir, gempa bumi, kebakaran hutan, hingga korupsi yang semakin masif yang dilakukan oleh orang-orang yang notabene sebagai penegak hukum dan pemegang kekuasaan, baik di tingkat pusat maupun daerah.
Lima Pilar Pembangunan Akhlak Bangsa
Ibn Mas’ud RA menyatakan bahwa kehidupan dunia ini akan berjalan baik, menghasilkan kebaikan, dan kesejahteraan bagi masyarakat ketika ditopang oleh lima kelompok (pilar) orang yang memiliki akhlaqul karimah:
"Tegaknya urusan dunia itu (karena ditopang) oleh lima pilar utama yaitu: ilmunya para ulama, adilnya para penguasa, kepemurahannya orang kaya, doanya orang-orang fakir, dan jujurnya para pegawai." (HR. Ibnu Mas’ud).
· Pertama, Ilmunya para ulama. Para ulama adalah orang-orang yang mendapatkan anugerah dan karunia dari Allah SWT berupa pemahaman terhadap ajaran Islam yang sangat mendalam, yang berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Mereka adalah tempat masyarakat bertanya tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupannya.
Di samping pengetahuannya yang mendalam, para ulama pun harus memberikan contoh dan suri teladan dalam kehidupan kesehariannya. Dengan demikian, masyarakat bukan hanya melihat ilmunya, akan tetapi juga melihat dan menyaksikan perilakunya yang sangat indah dan menjadi uswatun hasanah. Para ulama sesungguhnya adalah kelompok orang yang hanya takut kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Fathir [35]: 28: “...Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
Ketika para ulama tidak berperan sebagai uswatun hasanah, bahkan akhlaknya lebih buruk dari masyarakat biasa, maka hal tersebut akan menjadi musibah yang sangat besar bagi masyarakat dan bangsa secara luas. Rasulullah SAW mengingatkan dalam sebuah hadis riwayat Imam Ad-Dailami dari Ibnu Abbas: "Penyakit yang sangat berbahaya itu ada tiga yaitu: orang yang mengerti agama tetapi dia jahat, penguasa yang zalim, dan orang yang suka berijtihad/berfatwa, tetapi tidak memiliki ilmu pengetahuan."
Orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang mendalam disebut juga dengan kaum cendekiawan atau kaum intelektual. Mereka memiliki tanggung jawab yang besar terhadap masyarakat dan bangsa sejalan dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Kaum intelektual harus berpihak pada keadilan, kejujuran, dan kebenaran. Ketika hal ini tidak terjadi, maka akan terjadi berbagai macam kerusakan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.
· Kedua, Penguasa yang adil. Penguasa adalah orang atau kelompok orang yang mendapatkan amanah dari Allah SWT untuk mengurus masyarakat agar masyarakat hidupnya sejahtera lahir dan batin; terpenuhi kebutuhan pokok hidupnya, pekerjaannya, pendidikannya, tempat tinggalnya, dan kebutuhan lainnya. Pemimpin yang adil dan jujur termasuk kategori orang-orang yang dimuliakan Allah SWT dan menjadi kelompok pertama yang akan mendapatkan perlindungan dari Allah di alam Mahsyar nanti, pada saat tidak ada perlindungan selain perlindungan-Nya (sebagaimana dinyatakan dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).
Sebaliknya, jika pemimpin atau penguasa tidak adil; tidak melaksanakan amanah kepemimpinannya dengan baik dan bertanggung jawab, maka mereka termasuk kategori orang yang sangat dimurkai oleh Allah SWT. Bahkan, ketidakadilan dalam penegakan hukum misalnya, akan menyebabkan hancurnya tatanan kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara.
Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya kerusakan umat-umat terdahulu adalah dikarenakan ketika orang-orang yang mulia (penguasa dan banyak uang) melakukan pencurian, mereka tidak menegakkan hukum padanya. Jika yang melakukan pencurian adalah orang-orang yang lemah (tidak memiliki kekuasaan dan tidak berharta), maka mereka menegakkan hukum padanya. Demi Allah, yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, andaikan Fathimah anak Muhammad mencuri, pasti aku potong tangannya (dengan tanganku sendiri)."
Kehadiran dan keberadaan ulama yang khasyah dan umara yang adil merupakan sebuah keniscayaan dan keharusan kalau masyarakat ingin baik dan sejahtera hidupnya. Imam Al-Ghazali mengatakan: "Dua kelompok manusia, kalau beres keduanya, maka akan beres semua manusia. Dan jika rusak keduanya, maka akan rusak semua manusia, yaitu: ulama dan umara."
· Ketiga, Kepemurahan orang-orang kaya. Orang-orang kaya adalah kelompok orang yang mendapatkan anugerah dan karunia dari Allah SWT karena pekerjaan dan kegiatan usahanya menghasilkan kekayaan yang banyak. Hal yang penting dari harta kekayaan ini adalah bagaimana cara mendapatkan dan memanfaatkannya. Jika didapatkan dengan baik, benar, dan halal, sesuai aturan agama serta aturan berbangsa dan bernegara, kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan bersama—seperti untuk orang-orang miskin, anak yatim, kaum duafa, dan kelompok lain yang membutuhkan dalam bentuk zakat, infak, sedekah, dan wakaf—maka orang kaya yang memiliki akhlaqul karimah ini akan menjadi pilar penentu dalam pembangunan masyarakat dan bangsa.
Sifat kepemurahan mereka akan menyebabkan kedekatan dengan Allah, dengan sesama manusia, dan kelak menjadi ahli surga serta dijauhkan dari siksa neraka. Sebaliknya, orang yang kikir dan bakhil akan jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga, tetapi dekat dengan neraka (seperti dinyatakan oleh Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Tirmidzi).
Sebagian sahabat Nabi RA adalah orang yang memiliki kekayaan yang banyak, tetapi kekayaannya itu tidak tampak pada gaya hidup yang mewah. Kehidupan keseharian mereka sama dengan sahabat yang lainnya, tetapi kekayaan mereka terlihat nyata ketika berinfak dan bersedekah, yang terkadang lebih dari separuh hartanya. Contohnya seperti yang dilakukan oleh Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin ‘Auf, dan lain sebagainya. Mereka tidak segan-segan untuk berinfak dalam jumlah besar demi kepentingan agama, masyarakat, dan bangsanya. Dengan sebab banyaknya infak yang dikeluarkan, turunlah firman-Nya dalam QS. Ali Imran [3]: 92.
Tentu pada saat sekarang, kita sangat membutuhkan kehadiran para hartawan yang sekaligus dermawan, yaitu orang kaya yang bertakwa kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis: "Sebaik-baiknya harta yang baik, berada pada tangan orang-orang yang baik."
· Keempat, Doanya orang-orang fakir. Yaitu orang-orang yang secara material mengalami kekurangan, tetapi secara spiritual dan rohaniah mereka adalah orang-orang yang kaya, yang tetap melakukan pengabdian kepada Allah dan menjauhkan diri dari sifat-sifat yang merusak. Mereka adalah orang-orang yang bersabar dalam menghadapi kesulitan hidup yang terjadi, tetap bekerja keras, berikhtiar dengan sungguh-sungguh mencari rezeki yang halal, dan terus berdoa serta memohon kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa tertidur karena kelelahan dalam mencari rezeki yang halal, maka ia tertidur dalam keadaan mendapatkan ampunan dari Allah SWT." (HR. Ibnu ‘Asakir).
· Kelima, Para pegawai yang amanah dan jujur. Para pegawai harus amanah, jujur, serta bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya. Keamanahan dan kejujuran dari para pegawai ini akan mengundang rahmat dan pertolongan dari Allah SWT, sekaligus akan menyebabkan kesejahteraan masyarakat dan bangsa. Rasulullah SAW bersabda: "Sifat amanah dan jujur itu akan menarik rezeki, sedangkan khianat itu akan menarik (mengakibatkan) kefakiran." (HR. Ad-Dailami).
Sebaliknya, jika berkhianat di dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, para pegawai yang menyandang predikat sebagai hamba Allah dan abdi negara ini akan mendapatkan kebencian dan kemurkaan dari Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Anfal [8]: 27:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَخُوْنُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ وَتَخُوْنُوْٓا اَمٰنٰتِكُمْ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui."
Penutup
Kemerdekaan tidak boleh berhenti pada perayaan dan formalitas belaka, tetapi harus dijaga dan diisi dengan berbagai kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa. Amanah inilah yang perlu terus ditegaskan agar generasi yang menikmati kemerdekaan senantiasa menyadari tanggung jawabnya.
Sejatinya, kemerdekaan bukan sekadar upacara, pengibaran bendera, penyelenggaraan perlombaan, atau mengenang jasa para pahlawan. Kemerdekaan adalah amanah yang harus dijaga dan diisi dengan berbagai kebaikan. Lebih dari itu, kemerdekaan mengamanatkan kepada kita untuk membangun kehidupan berbangsa yang lebih maju, adil, dan beradab dalam berbagai bidang.
Semoga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini diisi oleh para alim ulama yang saleh, para penguasa yang adil, orang-orang kaya yang pemurah, para fakir yang sabar dan berdoa, serta para pegawai yang amanah dan jujur. Sehingga, akan tercapai negeri yang aman dan tenteram, masyarakatnya makmur dan bahagia dalam naungan rida Allah SWT. Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Amin.
Dirangkum oleh Khamimudin dari ceramah Ustadz Drs. H. Muhammad Fadhil, Lc., pada pengajian Sabtu pagi tanggal 15 Agustus 2026 di Masjid Al-Amanah, Ponggalan, Giwangan, Yogyakarta.
← Kembali ke Beranda