
Pengantar
Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., mencanangkan program 3 Keseimbangan, yaitu:
· Menjaga hubungan/kerukunan dengan Allah (Hablumminallah)
· Menjaga hubungan/kerukunan dengan sesama manusia (Hablumminannas)
· Menjaga hubungan/kerukunan dengan alam semesta (Hablum Minal ‘Alam)
Dalam ajaran Islam, kehidupan seorang Muslim tidak hanya berfokus pada hubungan ritual dengan Sang Pencipta, tetapi juga hubungan sosial dan lingkungan sekitar. Tiga hal ini menjadi dasar penting dalam membangun kehidupan yang seimbang, baik secara spiritual maupun sosial.
Bagi seorang Muslim, tidak cukup hanya rajin beribadah ritual; kita juga wajib menjaga sikap dan perilaku terhadap sesama makhluk. Sebaliknya, hubungan sosial yang harmonis juga harus dilandasi oleh keimanan yang kuat kepada Allah SWT.
Materi mengenai tiga keseimbangan ini disampaikan secara berkala pada Pengajian Sabtu Pagi di Masjid Al-Amanah, Ponggalan, Giwangan, Yogyakarta. Pada seri pertama ini, kita akan membahas fondasi utamanya, yaitu Hablumminallah.
Hablumminallah — Hubungan dengan Allah SWT
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Makna: Hubungan dengan Allah merupakan fondasi utama kehidupan manusia. Tujuan utama penciptaan manusia di dunia adalah untuk beribadah dan mengabdi kepada-Nya.
Agar seorang hamba dapat senantiasa "bermesraan" dan dekat dengan Allah SWT, terdapat beberapa syarat utama yang harus dipenuhi:
1. Tauhid yang Kokoh
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشِرِكُوا بِهِ شَيْئًا
"Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun..." (QS. An-Nisa: 36)
Perintah menyembah Allah dan menjauhi perbuatan syirik adalah inti dari ajaran Islam. Syirik merupakan dosa besar yang menyamakan Allah dengan makhluk-Nya, dan Allah tidak akan mengampuni dosa tersebut jika seseorang meninggal dalam keadaan belum bertaubat.
· Tauhid: Mengesakan Allah dalam ibadah, doa, rasa takut, dan rasa harap hanya kepada-Nya.
· Syirik: Menyekutukan Allah, seperti meminta perlindungan kepada selain Allah, percaya pada dukun, atau mengagungkan sesuatu seolah-olah memiliki kekuatan setara dengan Allah.
Panduan mengenai ketauhidan ini disampaikan oleh Rasulullah ﷺ dalam hadits riwayat Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu:
قَاَلَ : يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلاَمِ ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَّنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ ، وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ ، وَتَحُجَّ البَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً
"Malaikat Jibril berkata, 'Wahai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam.' Rasulullah ﷺ menjawab, 'Islam itu engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya.'" (HR. Muslim)
Selanjutnya, ketika ditanya tentang iman, Rasulullah ﷺ menjawab:
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
"Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk." (HR. Muslim)
Pesan: Keimanan merupakan fondasi dari seluruh amal dan perilaku seorang Muslim.
2. Keikhlasan
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
"Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama..." (QS. Al-Bayyinah: 5)
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
"Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan." (HR. Bukhari dan Muslim)
Pesan: Keikhlasan berarti beribadah dan berbuat baik semata-mata karena Allah SWT, bukan demi mengharapkan pujian, penghargaan, atau kepentingan duniawi.
3. Tawakal
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
"Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal." (QS. Ali Imran: 159)
لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ
"Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki..." (HR. Tirmidzi no. 2344)
Kisah Refleksi: Sandal Baru dan Pelajaran Tawakal
Ada sebuah kisah menarik yang disampaikan penceramah. Suatu ketika, beliau mendapat hadiah ulang tahun dari istrinya berupa pasangan sandal yang cukup bagus. Saat bertugas menjadi khatib Shalat Jumat, beliau memakai sandal baru tersebut meski sang istri sempat mengingatkan agar tidak memakainya ke masjid agar tidak hilang.
Untuk mengantisipasi agar sandal tidak tertukar atau diambil orang, beliau sengaja menaruh sandalnya secara terpisah: satu di pojok kanan dan satu lagi di pojok kiri masjid. Namun, di masjid tersebut ada kebiasaan jamaah yang suka merapikan sandal agar siap dipakai oleh pemiliknya seusai shalat.
Sandal yang tadinya terpisah itu pun disatukan kembali oleh jamaah. Alhasil, seusai shalat, sandal tersebut rupanya terpakai oleh jamaah lain dan beliau harus pulang tanpa alas kaki. (Mungkin jamaah yang membawanya mempraktikkan isi khotbah sang khatib: "Ambillah yang baik dan tinggalkan yang buruk"). Agar sang istri tidak marah saat sampai di rumah, beliau menyempatkan mampir ke toko untuk membeli sandal pengganti dengan merek dan ukuran yang persis sama.
Pesan: Tawakal bukanlah pasrah tanpa usaha. Burung pun tetap keluar sarangnya untuk terbang mencari rezeki, baru kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.
4. Syukur
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
"Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat." (QS. Ibrahim: 7)
Syukur tidak hanya diucapkan di lisan dengan lafaz Alhamdulillah, tetapi diwujudkan melalui tiga dimensi:
· Hati: Menyadari sepenuhnya bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah.
· Lisan: Memuji dan berterima kasih kepada Allah.
· Perbuatan: Memanfaatkan nikmat tersebut untuk kebaikan dan ketaatan.
Pesan: Syukur mengubah nikmat yang kita terima menjadi sebuah keberkahan.
5. Istiqamah
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang berkata, 'Tuhan kami adalah Allah,' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka..." (QS. Fussilat: 30)
قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ
"Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah." (HR. Muslim)
Pesan: Istiqamah berarti konsisten berada di jalan kebaikan—bukan hanya berbuat baik sesaat, melainkan terus-menerus memeliharanya sepanjang hayat.
6. Ketakwaan
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim." (QS. Ali Imran: 102)
Pesan: Takwa adalah kesadaran penuh untuk menjalankan seluruh perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya dalam setiap aspek kehidupan.
Materi ini disampaikan dalam Pengajian Sabtu Pagi di Masjid Al-Amanah, Ponggalan, Giwangan, Yogyakarta, dan ditulis ulang oleh Khamimudin untuk jamaah Masjid Al-Amanah dan seluruh umat muslim.
← Kembali ke Beranda