
Oleh: Drs. H. Khamimudin, M.H.
Pengantar
Air adalah sumber utama bagi semua makhluk di bumi. Lebih dari 70% permukaan bumi terdiri dari air, dan lebih dari 60% tubuh manusia dibentuk oleh cairan ini. Tanpa air, manusia, hewan, dan tumbuhan tidak akan mampu bertahan hidup.
Air memiliki peran yang sangat vital dalam mendukung keberlangsungan hidup:
· Bagi Manusia: Berperan dalam proses pencernaan, sirkulasi darah, regulasi suhu tubuh, pembawa zat gizi, serta pembuangan racun melalui urine. Selain itu, air menjadi kebutuhan pokok untuk aktivitas harian seperti memasak, mencuci, mandi, dan berkebun.
· Bagi Tumbuhan: Membantu proses fotosintesis untuk menghasilkan makanan dan oksigen, serta menyalurkan zat hara dari tanah.
· Bagi Hewan: Menjaga keseimbangan cairan tubuh, mendinginkan suhu tubuh, serta menjadi habitat utama bagi ekosistem perairan.
Air sebagai Nafas Kehidupan
Air adalah elemen fundamental yang harus tersedia bagi setiap makhluk hidup. Darinya tumbuhan memperoleh kesuburan, hewan mendapatkan kelangsungan hidup, dan manusia mampu membangun masa depan serta peradabannya.
Ketika air hadir dalam jumlah yang cukup dan kualitas yang baik, kehidupan pun menjadi layak dan bermartabat. Sebaliknya, ketika ia tercemar atau langka, krisis kehidupan tak terelakkan. Di titik inilah, Islam memandang air bukan hanya sebagai sumber daya, melainkan amanah yang harus dijaga.
Air sebagai Asal Mula Kehidupan
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur'an:
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
“Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu, lalu Kami pisahkan keduanya; dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapa mereka tidak beriman?” (QS. Al-Anbiyā’: 30)
Ayat ini merupakan argumentasi teologis. Setelah menggambarkan asal-usul penciptaan langit dan bumi, Allah ﷻ menambahkan dalil yang dekat dengan pengamatan manusia, yaitu air sebagai sumber seluruh kehidupan.
Frasa “wa ja’alnā minal-mā’i kulla syai’in ḥayy” (وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ) menegaskan bahwa dari air diciptakan setiap makhluk hidup. Kata ja’alnā (جَعَلْنَا) di sini bermakna khalaqnā (خَلَقْنَا - Kami ciptakan), yang menunjukkan penciptaan langsung di bawah kekuasaan mutlak Allah. Sementara huruf “Min” bersifat Ibtidā’iyyah, menunjukkan bahwa air adalah titik awal dan sumber permulaan kehidupan.
Ayat ini ditutup dengan pertanyaan retoris: “Afa lā yu’minūn?” (أَفَلَا يُؤْمِنُونَ - Maka mengapa mereka tidak beriman?). Keberadaan air sebagai sumber kehidupan bukan hanya fakta ilmiah, melainkan bukti keimanan yang menghubungkan antara realitas empiris dan kesadaran tauhid.
Dengan demikian, air dalam perspektif Islam diposisikan sebagai dalil ketuhanan yang hidup. Air disentuh, diminum, dan dimanfaatkan setiap hari, namun sering kali luput direnungkan maknanya (Ibnu Asyur, Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, juz 17 hlm. 52).
Air sebagai Pilar Kosmos dan Peradaban
Penegasan Al-Qur’an tentang air diperdalam oleh para ulama. Ibnu Qayyim al-Jauziyah menyatakan:
المَاءُ مَادَّةُ الحَيَاةِ، وَسَيِّدُ الشَّرَابِ، وَأَحَدُ أَرْكَانِ العَالَمِ، بَلْ رُكْنُهُ الأَصْلِيُّ، فَإِنَّ السَّمَاوَاتِ خُلِقَتْ مِنْ بُخَارِهِ وَالأَرْضَ مِنْ زُبَدِهِ، وَقَدْ جَعَلَ اللهُ مِنْهُ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ
“Air adalah materi kehidupan, penghulu segala minuman, dan salah satu pilar alam semesta, bahkan pilar utamanya. Langit diciptakan dari uapnya dan bumi dari buihnya. Dan Allah telah menjadikan darinya segala sesuatu yang hidup.”
Refleksi kosmologis ini menempatkan air sebagai unsur fundamental dalam tatanan penciptaan. Air tidak hanya menopang kehidupan biologis, tetapi juga menjadi simpul yang menghubungkan penciptaan langit, pembentukan bumi, dan keberlangsungannya. Dalam sejarah manusia, air adalah fondasi kosmos sekaligus pilar peradaban yang diatur dalam kerangka etika, hukum, dan tanggung jawab kolektif.
Hujan: Harmoni antara Rahmat dan Keseimbangan
Al-Qur’an menjelaskan bagaimana distribusi air diatur secara presisi oleh Allah ﷻ:
وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّماءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَسْكَنَّاهُ فِي الْأَرْضِ ۖ وَإِنَّا عَلَىٰ ذَهَابٍ بِهِ لَقَادِرُونَ
“Dan Kami turunkan dari langit air menurut ukuran, lalu Kami tempatkan ia di bumi; dan sungguh Kami berkuasa untuk melenyapkannya.” (QS. Al-Mu’minūn: 18)
Frasa bi qadar (بِقَدَرٍ - menurut ukuran) menunjukkan bahwa turunnya hujan diatur dengan takaran yang pas: tidak berlebihan hingga menimbulkan banjir, dan tidak terlalu sedikit hingga menyebabkan kekeringan.
Ayat ini menyiratkan dimensi spiritual bahwa air adalah nikmat yang dapat dicabut sewaktu-waktu. Kalimat penutup “wa innā ‘alā żahābim bihī laqādirūn” menjadi pengingat agar manusia selalu bersyukur dan menjaga kelestarian air.
Keseimbangan ini sejalan dengan sistem hidrologi modern. Proporsi air di planet bumi—khususnya samudra—berperan vital menyerap panas dan menstabilkan suhu global. Konsep bi qadar menegaskan bahwa keseimbangan ekologis air adalah syarat mutlak keberlangsungan kehidupan.
Krisis Air Global: Tantangan Nyata Masa Kini
Tantangan pengelolaan air saat ini semakin nyata. Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Isu Air, Retno Marsudi, memperingatkan bahwa krisis air global terus memburuk akibat pertumbuhan penduduk, perubahan iklim, dan perkembangan teknologi.
“Ketika kita berbicara mengenai net zero, kita sering kali fokus pada energi, transportasi, dan industri. Namun ada satu elemen yang sangat penting, yaitu air. Tidak ada net zero tanpa air,” tegas Retno dalam Indonesia Net-Zero Summit (INZS).
Meskipun dalam satu dekade terakhir (sejak SDGs disepakati tahun 2015) sebanyak 961 juta orang telah mendapatkan akses air minum aman, capaian tersebut dinilai masih terlalu lambat. Saat ini, lebih dari 2,2 miliar penduduk dunia belum memiliki akses air minum aman, 3,5 miliar orang belum menikmati sanitasi layak, dan 4 miliar orang mengalami kelangkaan air.
Pada tahun 2050, populasi dunia diperkirakan mencapai 9,7 miliar jiwa. Hal ini diproyeksikan meningkatkan kebutuhan pangan hingga 50%, yang berdampak pada melonjaknya kebutuhan air lebih dari 25%. Mengingat 72% penggunaan air tawar dunia dialokasikan untuk pertanian, gangguan pada ketersediaan air akan langsung mengancam ketahanan pangan, kesehatan, hingga ekonomi global. Untuk mencapai target SDG 6 pada 2030, dunia perlu mempercepat laju penyediaan air minum aman hingga 8 kali lipat.
Penutup
Air dalam perspektif Islam bukan sekadar unsur fisik pendukung kehidupan, melainkan fondasi kosmis yang menghubungkan penciptaan, keberlangsungan makhluk, dan keseimbangan bumi. Keselarasan antara wahyu Al-Qur'an dan realitas ilmiah membuktikan bahwa air adalah ayat kauniyah—tanda kebesaran Allah ﷻ yang patut direnungkan.
Memandang air semata sebagai komoditas adalah reduksi makna. Dalam Islam, air adalah amanah. Menjaganya berarti merawat kehidupan, sedangkan merusaknya berarti mengancam keberlangsungan generasi.
Menghadapi tantangan perubahan iklim dan krisis air saat ini, sangat penting untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat. Setiap tetes air yang kita minum adalah pengingat bahwasanya kehidupan berdiri di atas rahmat yang terukur, dan dari kesadaran itulah lahir tanggung jawab bersama untuk merawatnya.
Sumber Referensi
· 1. Dr. Abdullah bin Umar. Ahkam al-Bi’ah fi al-Fiqh al-Islami. Cet. Dar Ibn al-Jauzi.
· 2. World Health Organization (WHO). Air dan Kesehatan.
· 3. UN-Water. Krisis Air Bersih dan Dampaknya.
← Kembali ke Beranda