Artikel · 05 Agustus 2026 · Prof. H. Muchammad Ichsan, Lc., M.A., Ph.D.

Lupa: Antara Fitrah Manusia dan Dampak Maksiat

Lupa: Antara Fitrah Manusia dan Dampak Maksiat

Oleh: Prof. H. Muchammad Ichsan, Lc., M.A., Ph.D.

Lupa adalah kondisi saat seseorang tidak dapat mengingat atau menyebutkan kembali informasi, kejadian, atau hal yang sudah pernah dipelajari sebelumnya. Kondisi ini bisa disebabkan oleh kurang tidur, stres, atau kelelahan.

Dalam ajaran Islam, sifat lupa adalah tabiat dasar manusia yang dimaafkan dan tidak mendatangkan dosa. Berdasarkan dalil, Allah SWT mengangkat dosa dari umat Islam yang berbuat keliru, lupa, atau dipaksa.

Hukum dan Konsekuensi Lupa

·        Bebas Dosa: Orang yang lupa melakukan larangan atau meninggalkan kewajiban tidak disiksa atau dicatat berdosa.

·        Kewajiban Mengganti: Jika lupa melakukan ibadah seperti salat atau puasa (misal makan saat puasa karena lupa), ibadah tersebut tetap harus dikerjakan atau diqadha/dilanjutkan saat ia ingat.

·        Sujud Sahwi: Dalam salat, lupa jumlah rakaat atau gerakan disunnahkan menggantinya dengan sujud sahwi sebelum salam.

Lupa yang Tercela

·        Lupa kepada Allah: Lalai dari dzikrullah atau sengaja mengabaikan perintah akibat menuruti hawa nafsu.

·        Dampak Maksiat: Perbuatan dosa dapat mengeraskan hati dan menyebabkan seseorang mudah lupa pada kebaikan atau ilmu.

Jika bukan terindikasi penyakit, berarti ada perilaku yang menjadi sebab sulitnya kita mengingat sesuatu. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah pernah berkata:

“Aku pernah mengadukan kepada Waki’ (guru) tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Tholibin, 2: 190).

Setelah banyak merenung, barulah Imam Asy-Syafi’i teringat, bahwa suatu waktu beliau pernah tak sengaja melihat wanita yang tengah menaiki kendaraan, kemudian pakaiannya tersingkap dan menunjukkan auratnya.

Inilah tanda wara' dari Imam Asy-Syafi’i, yaitu kehati-hatian beliau dari maksiat. Beliau melihat kaki wanita yang tidak halal baginya, lantas beliau menyebut dirinya bermaksiat, sehingga ia lupa terhadap apa yang telah ia hafalkan.

Sahabat, melakukan maksiat baik tidak disengaja maupun disengaja, dapat menutup hati kita, sehingga kita sulit untuk mendapatkan ilmu, bahkan termasuk menghafal Al-Qur'an. Allah Ta’ala berfirman:

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, "Yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah dosa di atas tumpukan dosa sehingga bisa membuat hati itu gelap dan lama kelamaan pun mati." (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Ibnu Katsir, 14: 268).

Dari kisah ini kita dapat memetik hikmah, bahwa maksiat dan hal buruk yang kita lakukan menjadi penyebab kita menjadi pelupa dan kesulitan dalam mengingat berbagai hal.

Maka, bertaubat dan menjaga diri dari maksiat serta akhlak tercela menjadi ikhtiar dalam menguatkan kembali ingatan. Purnakan pula upaya ini dengan bersedekah. Sebab, amalan sedekah pun dapat menggugurkan dosa.

“Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air itu memadamkan api.“ (HR. At-Tirmidzi)

Penyebab Sering Lupa

·        Kurang tidur membuat otak lelah dan sulit merekam memori baru.

·        Stres atau banyak pikiran mengganggu bagian otak untuk mengingat.

·        Kurang nutrisi atau kekurangan vitamin penting seperti vitamin B.

Cara Mengatasi Lupa

·        Tidur yang cukup setiap malam agar otak bisa istirahat.

·        Olahraga rutin, serta memperlama gerakan ruku' dan sujud saat salat untuk melancarkan aliran darah ke otak.

·        Menuliskan catatan penting agar tidak bergantung sepenuhnya pada ingatan.

--------------------------------------------------

Disarikan dari materi Pengajian Rutin Sabtu Ba'da Shubuh, 1 Agustus 2026, di Masjid Al-Amanah, Jl. Karangmiri Ponggalan-Giwangan, Yogyakarta, dengan beberapa tambahan oleh Khamimudin.


← Kembali ke Beranda